Selasa, 01 Mei 2012

Psikologi Umum



TEORI PSIKOANALISIS

A. Pengantar
            Salah satu aliran utama dalam sejarah psikologi adalah teori psikoanalisis Sigmund Freud. Psikoanalisis adaah sebuah model perkembangan kepribadian, filsafat tentang sifat manusia, dan metode psikoterapi. Freud mengundang banyak kontroversi, eksplorasi, penelitian dan menyajikan landasan tempat bertumpu sistem-sistem yang muncul kemudian. Sumbangan-sumbangan utama yang bersejarah dari teori dan praktek psikonalitik mencakup : (1) kehidupan mental individu menjadi bisa dipahami, dan pemahaman terhadap sifat manusia bisa diterapkan pada perbedaan penderitaan manusia; (2) tingkah laku diketahui sering ditentukan oleh faktor-faktor tak sadar; (3) perkembangan pada masa dini kanak-kana memiliki pengaruh yang kuat terhadap kepribadian dan masa dewasa; (4) teori psikoanalitik menyediakan kerangka kerja yang berharga untuk memahami cara-cara yang digunakan oleh individu untuk mengatasi kecemasan dengan mengandaikan adanya mekanisme-mekanisme yang bekerja untuk menghindari luapan kecemasan; (5) pendekatan psikoanalitik telah memberikan cara-cara mencari keterangan dari ketaksadaran melalui analisis atas mimpi-mimpi, resistensi-resistensi, dan transferensi-transferensi.
            Ada dua asumsi yang mendasari teori psikoanalisis Freud, yaitu  determinisme psikis dan motivasi tak sadar.
a. Determinisme Psikis (Psychic Determinism)
            asumsi ini mengemukakan bahwa segala sesuatu yang dilakukan, dipikirkan, atau dirasakan individu mempunyai arti dan maksud dan itu semuanya secara alami sudah ditentukan.
b. Motivasi tak sadar (Unconscious Motivation)
            Freud meyakini bahwa sebagian besar tingkah laku individu (seperti perbuatan, berpikir, dan merasa) ditentukan oleh motif tak sadar.

B. Struktur Kepribadian
            Menurut pandangan psikoanalitik, struktur kepribadian terbagi menjadi tiga sistem: id, ego, superego. Ketiganya adalah nama bagi proses-proses psikologis dan jangan dipikirkan sebagai agen-agen yang terpisah mengoperasikan kepribadian.
1. Id (Das Es), Aspek Biologis Kepribadian
            Id adalah sistem kepribadian yang orisinil; kepribadian setiap orang hanya terdiri dari id ketika dilahirkan. Id tempat bersemayam naluri-naluri. Id krang terorganisas, buta, menuntut, dan mendesak. Id tidak bisa menoleransi tegangan, dan bekerja untuk melepaskan tegangan itu sesegera mungkin serta ntuk mencapai keadaan homeostatik. Id berorientasi pada prinsip kesenangan (pleasure principle) atau prinsip reduksi ketegangan. Id merupakan sumber energy psikis. Maksudnya bahwa energi merupakan sumber dari instink kehidupan (eros) atau dorongan-dorongan biologis (makan, minum, tidur, bersetubuh, dsb.) dan instink kematian/instink agresif (tanatos) yang menggerakan tingkah laku. Id merupakan proses primer yang bersifat primitif, tidak logis, tidak rasional, dan orientasinya bersifat fantasi (maya).
            Dalam mereduks ketegangan atau menghilangkan kondisi yang tidak menyenangkan dan untuk memperoleh kesenangan, id menempuh dua cara (proses), yaitu melalui refleks dan proses primer (the primary process). Refleks merupakan reaksi-reaksi mekanis/otomatis yang bersifat bawaan (bukan hasil belajar), seperti: bersin dan berkedip. Melalui refleks, ketegangan (perasaan tidak nyaman) dapat direduksi dengan segera. Proses primer berusaha mengurangi ketegangan dengan cara membentuk khayalan (berfantasi) tentang objek dan aktifitas yang akan menghilangkan ketegangan tersebut.


2. Ego (Das Ich), Aspek Psikologis Kepribadian
            Ego memiliki kontak dengan dunia eksternaldari kenyataan. Ego adalah eksekutif dari kepribadian yang memerintah, mengendalikan dan mengatur. Sebagai “polisi lalu lintas” bagi id, superego dan dunia eksternal, tugas utama ego adalah menjembatani naluri-naluri dengan lingkunga sekitar. Ego mengendalikan kesadaran dan melaksanakan sensor. Dengan diatur oleh asas kenyataan, ego berlaku realistis da berpikir logis serta merumuskan rencana-rencana tindakan bagi pemuasan kebutuhan-kebutuhan. Hubunga ego dengan id adalah ego tempat bersemayam inteligensi dan rasionalitas yang mengawasi dan mengendalikan impuls-impuls buta dari id. Sementara id hanya mengenal kenyataan subjektif, ego membedakan bayangan-bayangan mental dengan hal-hal yang terdapat didunia eksternal.
            Seperti halnya id, ego pun mempunyai keinginan untuk memaksmalkan pencapaian kepuasan, hanya dalam prosesnya, ego berdasar pada “secondary process thinking”. Proses sekunder adalah berpikir realistic yang bersifat rasional, realistik, dan berorientasi pada pemecahan masalah. Hal-hal yang harus diperhatikan ego adalah bahwa (1) ego merupakan bagian dari id yang kehadirannya bertugas untuk memuaskan kebutuhan id,bukan untuk mengecewakan, (2) seluruh energy (daya) ego berasal dari id, sehngga ego tidak terpisah dari id, (3) peran utamanya menengahi kebutuhan id dan memenuhi kebutuhan lingkungan sekitar, (4) ego bertujuan untuk mepertahankan kehidupan individu dan mengembangbiakannya.


3. Superego (Das Uber Ich), Aspek Sosiologis Kepribadian
            Superego adalah cabang moral atau hukum dari kepribadian, superego adalah kode moral individu yang urusan utamanya adalah suatu tindakan baik atau buruk, benar atau salah. Superego mempresentasikan hal yang ideal alih-alih hal yang real, dan mendorong bukan pada kesenangan, melainkan kepada kesempurnaan. Superego mempresentasikan nilai-nilai tradisional dan ideal-ideal masyarakat yang diajarkan orang tua kepada anak.
            Superego berfungsi untuk (1) merintangi dorongan-dorongan id, terutama dorongan seksual dan agresif, karena dalam perwujudannya sangat dikutuk oleh masyarakat, (2) mendorong ego untuk menggantikan tujuan-tujuan realistik degan tujuan moralstik, dan (3) mengejar kesempurnaan (perfection).

C. Kesadaran dan Ketidaksadaran           
Ketiga komponen diatas merupak suatu sistem kepribadian yang bekerja sebagai suatu timdan dikordinasikan (diatur) oleh ego. Freud membandingkan struktur kepribadian atau lapisan kesadaran itu dengan gunung es yang menggambarkan bahwa enurut Freud kesadaran itu terdiri atas tiga tingkat, yaitu sebagai berikut :
Kesadaran (conscious) merupakan bagian kehidupan mental atau lapisan jiwa individu. Kehidupan mental ini memiliki kesadaran penuh (fully aware). Freud meyakini bahwa kesadaran individu merupakan bagian terkecil (permukaan gunung es) dari kehidupan mentalnya.
Ambang Sadar (preconscious) merupakan lapisan jiwa dibawah kesadaran, sebagai tempat penampungan dari ingatan-ingatan yang tidak dapat diungkap secara cepat, namun dengan usaha tertentu usaha sesuatu itu dapat diingat kembali.
Ketidaksadaran (unconscious) merupakan lapisan terbesar dari kehidupan mental individu. Area ini merupakan gudang dari instink-instink atau pengalaman-pengalaman yang tidak menyenangkan (emotional pain) yang direpres.

D. Kecemasan
            Hal yang juga esensial untuk memahami pandangan psikoanalitik tenang sifat manusia adalah memahami konsep kecemasan. Kecemasan adalah suatu keadaan tegang yang memotivasi kita untuk berbuat sesuatu. Fungsinya adalah memperngatkan adanya ancaman bahaya, yakni sinyal bagi ego yang akan terus meningkat jika tindakan-tindakan yang layak untuk mengatasi ancaman bahaya itu tidak diambil. Freud mengklasifikasikan kecemasan kedalam tiga tipe, yaitu: kecemasan realistis, kecemasan neurotik, dan kecemasan moral.

E. Mekanisme Pertahanan Ego
            Mekanisme pertahanan ego merupakan proses mental yang bertujuan untuk mengurangi kecemasan dan dilakukan melalui dua karakteristik khusus yaitu (1) tidak disadari dan (2) menolak, memalsukan atau mendistorsi (mengubah) kenyataan. Mekanisme pertahanan ini dapat juga diartikan sebagai reaksi-reaksi yang tidak disadari dalam upaya melindungi diri dari emosi atau perasaan yang menyakitkan, seperti cemas dan perasaan bersalah. Jenis-jenis mekanisme pertahanan ego itu adalah sebagai berikut.

  • Represi, merupakan proses penekanan dorongan-dorongan kea lam tak sadar, karena mengancam keamanan ego. Dapat diartikan juga sebagai proses “penguburan” pikiran dan perasaan yang mencemaskan kea lam tak sadar. Represi merupakan mekanisme pertahanan dasar yang terjadi ketika memori, pikiran, atau perasaan (kateksis objek = id) yang menimbulkan kecemasan ditekan keluar dari kesadaran oleh antikateksis (ego)
  • Projeksi, merupakan pengalihan pikiran, perasaan atau dorongan diri sendiri kepada orang lain. Seseorang melihat pada diri orang lain hal-hal yang tidak disukai dan ia tidak bisa menerima adanya hal-hal itu pada diri sendiri
  • Pembentukan Reaksi (Reaction Formation), merupakan penggantian sikap dan tingkah laku dengan sikap dan tingkah laku yang berlawanan guna menyangkal perasaan-perasaan yang bisa menimbulkan kecemasan.
  • Pemindahan Objek (Displacement), merupakan proses pengalihan perasaan (biasanya rasa marah) dari objek (target) asli ke objek pengganti.
  • Fiksasi, merupakan mekanisme yang memungkinkan orang mengalami pemberhentian dalam perkembangannya, Karena merasa cemas untuk melangkah ke perkembangan berikutnya.
  • Regresi, merupakan pengulangan kembali tingkah laku yang cocok bagi tahap perkembangan atau usia sebelumnya (perilaku kekanak-kanakan).
  • Rasionalisasi, merupakan penciptaan kepalsuan (alasan-alasan) namun dapat masuk akal sebagai upaya pembenaran tingkah laku yang tidak dapat diterima.
  • Sublimasi, merupakan pembelotan atau penyimpangan libido seksual terhadap kegiatan yang secara sosial lebih dapat diterima.
  • Identifikasi, merupakan proses memperkuat harga diri (self-esteem) dengan membentuk suatu persekutuan (aliansi) nyata atau maya denga orang lain, baik seseorang maupun kelompok.

F. Perkembangan Kepribadian
            Sumbangan yang berarti dari model psikoanalitik adalah pelukisan tahap-tahap perkembangan psikososial dan psikoseksual individu dari lahir hingga dewasa. Makna perkembangan kepribadian menurut Freud adalah “Belajar tentang cara-cara baru untuk mereduksi ketegangan (tension reduction) dan memperoleh kepuasan”. Ketegangan itu terjadi bersumber kepada empat aspek yaitu : pertumbuhan fisik, frustrasi, konflik, ancaman.
            Perkembangan kepribadian berlangsung melalui tahapan-tahapan perkembangan psikoseksual yaitu tahapan periode perkembangan seksual yang sangat mempengaruhi kepribadian masa dewasa. Freud berpendapat bahwa perkembangan kepribadian manusia sebagian besar ditentukan oleh perkembangan seksualitasnya. Diantara kelahiran dan usia 5 tahun (usia balita), anak mengalami tiga tahap perkembangan, yaitu: tahap oral, tahap anal, dan tahap phalik.
a. Tahap Oral (Oris = Mulut)
Tahap oral adalah periode bayi yang masih mengisap buah dada ibu memuaskan kebutuhannya akan makanan dan kesenangan. Karena mulut dan bibir merupakan zone-zone erogen yang peka selama fase oral ini, bayi mengalami kenikmatan erotik dari tindakan mengisap. Tugas perkembangan utama fase oral adalah memperoleh rasa percaya yakni percaya kepada orang lain, kepada dunia, dan kepada diri sendiri. Efek penolakan pada fase oral  adalah kecenderungan di masa kanak-kanak selanjutnya untuk menjadi penakut, tidak aman, haus akan perhatian, iri, agresif, benci dan kesepian.
b. Tahap Anal (Anus = Dubur)
Tahap ini berada pada usia kira-kira 2 sampai 3 tahun. Pada tahap ini libido terdistribusikan ke daerah anus. Anak akan mengalami ketegangan, ketika duburnya peu dengan ampas  dan peristiwa buang air besar yang dialami oleh anak merupakan proses pelepasan dan pencapaian kepuasan, rasa senang atau rasa nikmat, peristiwa ini disebut erotik anal. Tugas-tugas yang harus diselesaikan selama fase ini dalah belajar mandiri, memiliki kekuatan pribadi otonomi, serta bagaimana mengakui dan menangani perasaan-perasaan yang negatif. Selama fase anal, anak dipastikan akan mengalami perasaan-perasaan negatif seperti benci, hasrat merusak, marah, dan sebagainya.
c. Tahap Phalik (Phalus = Dzakar)
Tahap ini berlangsung kira-kira usia 4 sampai 5 tahun. Pada usia ini anak mulai memperhatikan atau senang memainkan alat kelaminnya sendiri. Dengan kata lain, anak sudah mulai bermasturbasi yang menghasilkan kepuasan atau rasa senang. Pada masa ini terjadi perkembangan berbagai aspek psikologis, terutama yang terkait dengan iklim kehidupan sosiopsikologis keluarga atau perlakuan orang tua kepada anak. Pada tahap ini anak masih “selfish”, sikap mementingkan diri sendiri, belum berorientasi keluar, atau memperhatikan orang lain.
d. Tahap Latensi
Tahap latensi berkisar antara usia 6 sampai 12 tahun. Tahap ini merupakan masa tenang seksual, karena segala seseuatu yang terkait dengan seks dihambat atau direpres. Dengan kata lain masa ini adalah periode tertahannya dorongan-dorongan seks dan agresif. Selama masa ini, anak mengembangkan kemampuannya bersublimasi dan mulai menaruh perhatian untuk berteman (bergaul).  
e. Tahap Genital
Tahap ini dimulai sekitar usia 12 sampai 13 tahun. Pada masa ini anak sudah masuk usia remaja. Masa ini ditandai dengan matangnya organ reproduksi anak, instink seksual dan agresif menjadi aktif dan mulai mengembangkan motif untuk mencintai orang lain atau mulai berkembangnya motif altrus .

G. Implikasi Teori Kepribadian Psikoanalisis terhadap Bimbingan dan Konseling
            Psikoanalisis dipandang sebagai pendekatan atau metode terapi (bimbingan dan konseling). Ada beberapa implikasi teori psikoanalisis terhadap bimbingan dan konseling, yaitu sebagai berikut :
 Tujuan Bimbingan dan Konseling
Bimbingan dan konseling bertujuan untuk (1) memperkuat ego, sehingga mampu mengontrol dorongan-dorongan instink, dan (2) meningkatkan kemampuan individu dalam bercinta dan bekerja.


Metode Bimbingan dan Konseling
Yang menjadi fokus utama bimbingan dan konseling adalah represi yang tidak terpecahkan, dengan cara menganalisis pengalaman masa lalu pasien. Para analis dalam membantu pasien menggunakan beberapa metode sebagai berikut. 

  • Asosiasi Bebas, merupakan teknik utama psikoanalisis. Pasien diminta untuk mengatakan apa saja yang berada dalam pikirannya. Menggunakan teknik ini memang tidak mudah dan memakan waktu lama
  • Analisis Mimpi, ketika pasien tidur, ego menjadi lemah untuk mengontrol dorongan-dorongan Id dan dorongan tersebut dapat mendesak ego untuk memuaskannya
  • Interpretasi, melalui interpretasi dari konselor, pasien menjadi terdorong untuk mengakui ketidaksadarannya, baik terkait dengan pikiran, kegiatan, atau keinginan-keinginannya.
  • Resistensi, memperoleh wawasan (insight) tidaklah mudah, karena masalah-masalah neurotik yang dialami pasien dapat juga menimbulkan sikap resisten terhadap proses  tarapeutik. Resistensi pasien ini dinyatakan dalam banyak cara, seperti: tidak menepati janji, menolak interpretasi dan banyak menghabiskan waktu untuk diskusi.
  • Transferensi, terjadi ketika pasien merespon analis sebagai figur pada waktu kecil. Transferensi memberikan petunjuk tentang hakikat masalah atau kesulitan pasien, sehingga memudahkan konselor untuk menginterpretasikanya.